Bulan: November 2011

Pantai Indrayanti Dalam Foto

Sedikit dokumentasi ketika mengunjungi pantai indrayanti

Karang di Pojok Pantai

Di lihat dari pinggir jalan

Laut Nan Luas

You Can See it

What a Beautiful Moment

Mengintip Dari Celah Karang

Sea Sport

Fly Baby

Fly Again

hahaha

U Wanna Try ??

Friend

Untuk berkunjung ke pantai ini , saya sarankan anda menggunakan kendaraan pribadi mauoun sepeda motor, karena memang tidak ada kendaraan umum yang sampai sini, jalur yang bisa diambil adalah Yogyakarta >> Wonosari >> Baron >> Indarayanti,, dari pantai baron, ambil jalur kekiri karena pantai ini terletak agak jauh di sebelah timur baron, kalo masih bingung silahkan tanya saja penduduk sekitar baron . biaya masuk hanya sekitar 7000 per motor, tapi biasanya biaya parkir 1000-2000 rupiah per motor.
Iklan

Jalan – jalan ke Kota Batu, Malang ( My Old Stories)

Tunggangan ke Batu

Hujan masih turun dengan deras di luar rumah, hawa dingin yang menusuk membuatku malas beranjak dari kasurku tercinta, hoam rasa kantuk pun mulai meyerang, padahal masih jam Sembilan malam masak sih jam segini udah mau tidur, kan jadinya rugi saya karena waktu tidur saya jadi terlalu panjang, iseng – iseng kubuka laptopku, yah barangakali ada hal yang menarik, yah akhirnya kutelusuri hardisk, memeriksa satu persatu folder yang ada, mataku  yang sipit pun jadi tambah sipit karena menahan rasa kantuk, zzzzz.
Hingga pada suatu folder tiba – tiba saya jadi terhenyak, yah folder foto waktu di kota Batu Malang, wkwkw baru teringat saya kalo ternyata pernah kesana, yah maklum memori itu seakan tenggelam tertumpuk laporan praktikum dan tugas kuliah, dan memori lama itupun tiba – tiba saja memenuhi pikiranku, tanpa pikir panjang kubuka Microsoft word dan merangkai kata – kata untuk mengungkapkan memori itu.
Semua bermula ketika saya touring ke Pulau Sempu di jawa timur, Tepatnya di Jalur Jombang – kota Batu, di jalur itu saya dan teman saya terpisah dari rombongan Touring, yah bayangkan saja sekitar jam 1 malam dan kami hanya berboncengan menggunakan dua motor, jalanan pun amat sepi hanya sesekali kami bertemu truk pengangkut sayur yang datang dari arah batu, ditambah pula dengan hawa yang sangat dingin, berbeda dengan teman – teman saya yang ketika dingin mengurangi kecepatan motornya, kami berdua justru semakin kesetanan memacu motor, dengan harapan cepat sampai tujuan dan beristirahat, motor pun meliuk – liuk di sepanjang jalur Jombang – Batu yang penuh dengan tanjakan dan tikungan, tak jarang footstep atau standar motor  kami menggerus aspal.
Perjalanan terasa jauh padahal menurut plang petunjuk hanya sekitar 30 kilometer, harapanpun mulai muncul ketika kami melihat gapura “ Selamat datang di Kota Wisata Batu “ , Alhamdulillah seneng banget rasanya, hanya berjarak sekitar 100 meter dari gapura kami langsung disuguhi pemnadangan yang sangat indah, yah pemandangan Kota Malang dari atas gunung, lampu – lampu bertebaran dimana – mana, nampak pula garis memanjang di kejauhan yang menampakkan seperti jalan, subhanallah indah sekali .
Adzan subuh berkumandang tepat ketika saya memasuki kawasan kota batu, ku parkir motor di masjid agung batu dan segera memenuhi panggilan dari Allah, selesai sholat kami berpetualang mencari kehangatan dan sasarannya adalah warung kopi di depan masjid agung,tak ayal 4 cangkir coffemix panas dan segelas besar jahe susu pun amblas ke dalam perut dasar buto kabeh hahaha, dan berunutngnya di depan masjid ada api unggun yah gunakan saja sebagai penghangat badan hingga mentari tiba. Berjam – jam ditunggu akhirnya matahari terbit juga unutk menghangatkan bumi horee, akhirnya udara batu jadi sedikit lebih hangat.
Suasana Di pagi Hari
Cuaca di kota Batu sangat cerah hari itu, kemana mata memandang pemnadangan bisa terlihat dengan jelas di mata, menunggu rombongan touring yang lain menyusul kami pun berjalan – jalan ke alun – alun kota Batu. Berbeda dengan alu – alun kota lain yang biasnay berupa lapangan luas, alun – alun kota batu malah berbentuk taman yang snagt unik, dihiasi dengan berbagai fasilitas olahraga, taman – tamna bunga, air mancur, bahkan binaglala yang snagt besar.

Di alun – alun kota batu terdapt pusat informasi jadi jangan khawatir akan kebingungan, betuk bangunannya pun menyerupai bentuk buah – buahan khas kota batu, selanjutnya biarlah gambar yang berbicara. 

Lagi asyik- asyik narsis eh hp bergetar, ada sms bahwasannya rombongan touring yang lain ternayata sudah menunggu di jalan menuju kota Malang, hmm baiklah cukup bermainnya, sekarang saatnya kembali melanjutkan perjalanan, tapi bagaimanapun Kota batu tetap membuat orang rindu unutk kembali kesana, apalagi saya belum sempat mengexplore kota itu,kalo boleh memplesetkan saya akan bilang Batu Never ending East java haha, bye –  ye kota Batu.

Night At Beach

Kadang sesuatu itu terjadi tanpa ada perkiraan , saya rasa kita sering mengalaminya juga, ingin main – main kemana gitu eh, sudah di rencanakan dengan baik, dana tersedia, tinggal hari H , eh ternyata gagal, tapi kadang juga kita mengerjakan sesuatu tanpa rencana tapi malah terlaksana . yupz itulah kehidupan.
Hal ini pulalaha yang saya alami ketika saya menikmati malam di pantai kukup, bahkan tidak pernah terlintas di benak saia , malem malam di pantai menikmati deburan ombak, dan diterangi sinar bulan, wew wew kedengarannya so sweet banget, tapi maaf kali ini tiada foto di antara kita dan biarkanlah kata – kata yang berbicara.
Pada suatu sore yang cerah sehabis praktikum, saya diajak temen saya si Adityo Haryadi, untuk mencicipi mangga di Rumah Zuhara di Gunungkidul, dan gayung pun bersambut karena memang saya maniak sama yang namanya mangga ( asal rasanya manis, kalo asem ngaak deh ) yah maklum di jogja pohon mangga belum pada berbuah, yang berbuah hanya mangga di Mirota kampus. Awalnya si kami merencanakan hanya dua orang yang pergi tetapi ternyata eh ternyata ketambahan dua orang lagi, yupz perjalanan berlangsung lancar , apesnya ketika sampai di tempat tujuan ternyata hanya ada tiga mangga yang sudah masak , terpaksa deh saya manjat pohon unutk memetik mangga – mangga yang lain, niat hati yang semula hanya ingin sekedar mencicipi berubah menjadi merampok mangga, tak ayal 20-25 mangga berukuran besar berjatuhan dari pohon, hujan mangga hahaha. Walaupun belum matang benar tapi tetap saja 3 mangga dikulitin dan disikat sama Intan Matta lana, Adityo Haryadi, Amri, dan tentunya saia sendiri nggak ketinggalan.
Selesai merampok mangga kami pun diajak tuan rumah untuk makan di luar, alamaak perut masih kenyang mangga mau ditambah nasi, tapi nggak papalah kapan lagi bisa makan seperti ini, lagi enak – enak makan eh tuan rumah menawari kami untuk sekalian melanjutkan perjalanan maen malem – malem ke pantai kukup, wew rasanya kaya kejatuhan duren seneeng banget seumur hidup saya belum pernah ke pantai Gunungkidul waktu malem. Tapi ternyata ketiga temen saia masih ragu unutk maen kesana terpaksa deh saya mengeluarkan jurus kompor pada mereka dan berhasil hihi, Perjalnan berlangsung lancar diselingi dengan canda tawa guyonan dan gombalan khas geng Manisrejo ( geng GEJE ) pokoknya seru dah.
Pelan – pelan mobil memasuki gerbang retribusi, karena dah malem jadi gratis deh, ambil kiri langsung menuju pantai kukup, pada saat malam hari mobil dan motor bisa sampai ke pinggir pantai, tapi kalo siang jangan harap deh  kita harus parkir di tempat yang lumayan jauh, mobilpun berhenti dan ketika kubuka pintu wuzz angin pantai langsung menerpa, wew lumayan dingin juga apalagi saia tidak membawa jaket, tetapi rasanya seger kok , masih ditambah deburan ombak panatai yang menabrak karang wuih rasanya ngeri, bikin nyali agak ciut juga kalo mbyangin ombaknya nabrak saia hihi, tapi justru suara gemuruh ombak menjadi music tersendiri di telinga.
Kamipun turun ke pasir pantai, baru sebentar turun langsung kami berlarian naik lagi, lha ternyata lautnya pasang jadi ombak menyentuh sampai batas pasir terakhir pantai, baru pertama juga saya melihat pasang setinggi ini, sangat disayangkan bulan tidak muncul kali ini, coba kalo muncul pasti dah pemandangan sangat indah, akhirnya kami pun hanya duduk di tebing sambil cerita ngalor – ngidul , udara masih berkabut ketika kami beranjak meninggalkan pantai kukup, diiringi suara deburan ombak perlahan – lahan mobil bergerak kembali ke kota Wonosari.
Walau pemandangan kali ini belum maksimal, tetapi cukup memberi pengalaman hidup pada saia, ternyata di pantai malem – malem tu asyik juga ya , semilir angin yang berpadu dengan suara deburan ombak sungguh tak terlupa apalagi jika ditambah pemandangan saat bulan purnama, hmm rasanya suatu saat saya harus mengulanginya entah kapan dan dengan siapa, yah suatu saat saia kan kembali kesana.